Saturday, July 9, 2016

Belajar Mencintai Indonesia



Hi, I'm back!

Lately I've been wanting to write again but I couldn't get the inspiration and courage. Today, I've decided to try again and share you some stories that hopefully interesting. Enjoy :)

Untuk post pertama setelah vakum beberapa tahun, saya ingin share tentang pengalaman saya waktu jadi volunteer di sebuah kegiatan yang namanya Peduli Desa.

Singkatnya, di kampus saya ada sebuah kegiatan tahunan yang diadakan oleh BEM bernama FKM UI PEDULI. Tahun 2015 kegiatan tersebut sudah berjalan selama 11 tahun, jadi di tahun 2015 namanya adalah FKM UI PEDULI 11. Peduli Desa merupakan salah satu rangkaian acara yang terdapat di kegiatan tersebut. Peduli Desa sendiri merupakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana kami—mahasiswa, mencoba untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan membantu mereka terutama dalam bidang kesehatan. Acaranya diisi dengan penyuluhan-penyuluhan dan juga pembangungan WC Umum. Masalah utama di Desa Tanjungan adalah MCK yang belum tersedia di setiap rumah warga. Banyak warga yang melakukan MCK di sungai ataupun di hutan. Saya bukan panitia acara tersebut, saya hanya mendaftar untuk menjadi volunteer pada acara Peduli Desa :)

Peduli Desa diadakan selama satu minggu penuh mulai tanggal 10-16 Januari 2016 dan bertempat di Desa Tanjungan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Bisa dibilang desa ini letaknya cukup jauh dan dekat dengan laut. Kami berangkat dari Depok sekitar pukul 10.30 pagi dan sampai di sana saya ingat sekali waktu maghrib. Desa Tanjungan memiliki beberapa RW, dan saya beserta teman-teman satu kelompok saya ditempatkan di RW Cikeusik. Sekedar informasi saja, awalnya saya sangat sedih tahu kalau ditempatkan di sana. Alasanya, RW Cikeusik letaknya lebih jauh lagi ke atas. RW lain lokasinya dekat dengan pantai, tapi lokasi RW saya di daerah atas, bahkan warganya adalah petani (bukan nelayan). 

Butuh waktu 30 menit waktu perjalanan lagi dengan mobil untuk sampai ke RW Cikeusik dari tempat seluruh panitia inti berkumpul (yaitu di Cikujang). Kalau jalan kaki mungkin bisa 1-1,5 jam. Bahkan, waktu hari pertama sampai di Desa Tanjungan, ketika kelompok lain sudah bisa pergi ke RW-nya masing-masing dan berkenalan dengan bapak-ibu homestay mereka, saya dan teman-teman sekelompok saya harus tinggal satu malam di Cikujang terlebih dahulu karena hari sudah gelap dan terlalu bahaya untuk pergi ke Cikeusik.

Panitia memang sudah mewanti-wanti kalau perjalanan ke Cikeusik itu ‘dahsyat’ karena jalannya yang berlumpur dan berbatu-batu. Di RW lain mungkin jalannya pasir, tapi di Cikeusik semuanya batu (di Desa Tanjungan belum ada jalan aspal). Awalnya saya pikir tidak akan terlalu parah, tapi ternyata ketika benar-benar melakukan perjalanan ke sana, saya baru paham dan menyesal karena saya sempat meremehkan peringatan panitia. 

Saya dan teman-teman sekelompok saya harus desek-desekkan naik mobil pick-up yang tidak cukup untuk kami ber-16. Bahkan para cowok-cowok harus duduk di atas mobil. Barang-barang kami ditinggal dulu di Cikujang dan akan menyusul diantar. Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya naik mobil itu dan berjalan di jalan yang seperti itu. Jujur saja seperti naik wahana ekstrim di Dufan. Tubuh terbanting-banting ke kanan-kiri-depan-belakang, punggung sakit, bokong sakit, bahkan saya harus pegangan kuat-kuat seperti orang akan melahirkan. Tapi untung saja perjalanan itu saya lalui bersama teman-teman saya, jadi apapun bisa dibuat tawa dan menyenangkan.

Saya kenalkan dengan teman-teman sekelompok saya:


(dari kiri-kanan)
Belakang: Galang, Shena, Dea, Erika, Hana, Yuni, Fing, Kak Indah, Kak Randi, Ishaq
Depan: Arifah, Sri, Fani, Memey, El, Maul

Foto itu diambil sebelum kami berangkat ke Desa Tanjungan (masih di Depok).

Mereka adalah teman-teman yang sudah bersama saya ketika kita semua tidur sepanjang siang dan sama-sama gak bisa mandi karena barang-barang belum dikirim oleh panitia, dan ketika kita sama-sama terjebak di jalan berlumpur sehabis hujan. Teman-teman yang membuat rasa indomie dan sarden menjadi lebih lezat, yang saling mengingatkan untuk minum obat malaria, yang bersama-sama masak dengan ayam jago super besar, yang super kuat karena sanggup menimba air sumur setiap hari, yang semangatnya luar biasa karena membabat 5 intervensi (penyuluhan) sekalgius dalam satu hari, yang mengajarkan saya kata ‘mancay’ (artinya mantap), dan yang membuat 4 hari saya di Cikeusik mudah untuk dilalui. Terima kasih untuk kalian semua :)

Selanjutnya, saya kenalkan dengan Cikeusik, tempat yang memberikan banyak sekali kenangan untuk saya walaupun saya hanya tinggal di sana selama 4 hari. Tempat yang tenang, akrab, dan indah.

 Jalan di Cikeusik

Sebagai gambaran, ini adalah jalan yang ada di Ciekusik. Bukan aspal atau pasir, tapi batu-batu. Hari pertama saya datang, butuh waktu lama sekali untuk saya jalan karena kaki saya sakit dan saya sangat hati-hati takut jatuh. Tapi warga di sana yang sudah terbiasa, jalan mereka biasa saja (cool!)

Lumpur sehabis hujan

Kalau hujan turun, kondisi jalannya akan seperti ini. Semua berlumpur, dan percaya sama saya susah sekali untuk jalan. Saya bisa dibilang selalu terjebak di lumpur :( Bahkan pernah saya berjalan mungkin jaraknya hanya 50 meter, tapi bisa sampai 20 menit karena lumpur itu. Sendal jepit saya pernah copot (tapi untung bisa benar lagi, hehe).

Rumah di Cikeusik
Ini adalah bentuk rumah di Cikeusik. Mayoritas terbuat dari bambu dan kayu dan berbentuk rumah panggung. Ada beberapa yang sudah seperti rumah di perkotaan, tapi hanya beberapa orang saja untuk yang punya rezeki lebih. Omong-omong, itu bukan parabola untuk TV berlangganan, tapi itu untuk TV nasional (saya baru tahu). Tapi jujur saja, tinggal di sana nyaman kok. Memang jarak satu ruangan dengan ruangan satunya sangat sempit, tapi di dalam rumah terasa sejuk.

Oh ya, kebanyakan warga di Cikeusik tidak pernah mengunci pintu kalau bepergian. Mereka tidak begitu khawatir akan ada orang jahat yang akan mencuri harta mereka. Tapi, RW ini memang cukup sepi, karena warga biasanya berangkat pagi-pagi ke ladang lalu pulang lagi menjelang maghrib. Baik bapak-bapak dan ibu-ibu melakukan hal yang sama. Sementara itu, anak-anak pergi sekolah (yang ngomong-ngomong letaknya ada di desa lain dan harus berjalan-jalan banyak kilometer karena di Cikeusik hanya ada SD). Jadi benar-benar cukup sepi.

Homestay

Ini adalah rumah Bapak dan Ibu Wana, bapak-ibu homestay saya. Anaknya satu laki-laki bernama Suanda (yang duduk di tengah). Saya bersyukur banget dapet homestay di rumah Ibu Wana karena ini adalah satu-satunya homestay yang sumurnya pake pompa SA***, hehe ;) Jadi saya gak harus nimba sumur setiap kali mau mandi, saya gak bisa bayangin kalau harus kayak gitu. Saya pernah satu kali cobain nimba sumur di homestay pusat kami untuk cuci piring, dan gilaaaa berat banget :(( Tapi hanya di rumah Bapak-Ibu Wana ini saya punya pengalaman mandi tanpa pintu dan dihibur dengan suara kambing, haha ;) (kamar mandinya ada di sebelah kandang kambing).

Bersyukur banget bisa kenal dengan Bapak-Ibu Wana. Bapak dan Ibu yang sudah memberikan kami fasilitas paling baik yang bisa kami terima. Ibu Wana yang katanya senang kedatangan kami dan nangis waktu kami pamitan pulang :( Ibu Wana yang memberikan kami kasur untuk tidur, dan menyalakan pengusir nyamuk bakar ketika kami tidur. Bapak Wana yang mengantarkan kami ke rumah-rumah warga untuk sosialisasi Pesta Rakyat.

Bapak dan Ibu yang sudah ajak kami ke ladang. Seru banget! Saya baru tahu kalau sawah dan ladang itu berbeda makna. Sawah adalah tempat petani menanam padi untuk dijual dan menjadi mata pencaharian utama, sementara ladang adalah tempat petani menanam berbagai macam tumbuhan untuk mereka konsumsi sendiri.  

Ibu Wana bercerita kalau di ladang itu enak, kita bisa duduk di saung, beristirahat setelah bekerja di sawah, membuat makanan, menikmati pamandangan, mengobrol, dan bahkan bisa tidur. Setiap keluarga punya sawah dan ladang masing-masing, dan seluruh anggota keluarga setiap hari pergi ke ladang dan sawah untuk bekerja. Anak-anak kecil yang belum sekolah juga terkadang diajak untuk ikut bermain.



Ini foto kami waktu ke ladang:


Ladang

 
Perjalanannya cukup jauh (saya agak manja memang). Perjalanan pergi lewat jalanan menanjak yang sepertinya tidak ada ujungnya dan pulangnya lewat sawah dan kami beberapa kali terperosok di lumpur. Tapi semua itu tentu saja terbayar dengan keindahan pemandangan di sana dan cerita-cerita dari Bapak dan Ibu Wana. Apalagi lihat mereka tertawa, jadi beneran ikut senang :)

Sawah milik Bapak dan Ibu Wana


Sekarang saya mau cerita tentang kegiatan inti kami di RW Cikeusik, yaitu intervensi! Intervensi adalah penyuluhan yang kami lakukan kepada warga di sana. Sasaran kami banyak, ada ibu-ibu, bapak-bapak, anak SD, dan remaja. Intervensi kami adalah seputar kesehatan: Gizi Seimbang, 1000 HPK, Rokok, Jamban Sehat, Reproduksi, Jajanan Sehat, dll. Masing-masing dari kami menjadi penanggung jawab dari satu intervensi. Saya dan Kak Indah jadi penanggung jawab untuk intervensi ke anak SD dengan tema Jajanan Sehat :)


Seru banget! Jadi belajar bagaimana menghadapi orang dari berbagai macam usia. Ibu-ibu itu ramai, kita hanya perlu pancing dengan satu kalimat, selanjutnya mereka akan cerita sendiri dan banyak bagi pengalaman, intervensinya mudah jadi kayak ngobrol. Kalau bapak-bapak dan remaja yang susah, mereka kebanyakan diam dan iya-iya aja, jadi waktu itu saya juga bingung :( Tapi kalau anak SD, hmm...lebih seru! Haha, harus sarapan yang banyak kalau berhadapan dengan anak-anak! Tapi saya senang banget kalau ketemu anak-anak, karena mereka ceria dan mau diajarin apa aja (nyanyi contohnya, hehe).

Ini beberapa foto intervensinya:

Intervensi dengan bapak-bapak dan remaja laki-laki

Intervensi di SD

Kelompok intervensi saya

Anak-anak kelas 6 SDN Tanjungan 4

Kami pernah gila membabat 5 intervensi sekaligus dalam satu hari. Hal itu dikarenakan kami harus pulang satu hari lebih cepat dari yang direncanakan. Karena tidak ada yang bisa menjemput kami di hari yang seharusnya kami pulang :( Tapi kami tetap semangat karena warga Cikeusik juga sangat bersemangat ikut intervensi! Itu yang paling penting :)

Satu hari sebelum kami kembali ke Depok, ada acara terbesar dari rangkaian Peduli Desa ini, yaitu Pesta Rakyat. Pesta Rakyat dilaksanakan di Lapangan Cikujang dan berisi berbagai rangkaian acara seperti aerobik bersama, bazar, cek kesehatan gratis, berbagai macam lomba 17-an, dan lomba cerdas cermat. Setiap warga di Desa Tanjungan sangat diundang untuk datang dan bersenang-senang bersama di Pesta Rakyat.

Yang membuat saya terharu adalah anak-anak dari Cikeusik semuanya datang :"" anak-anak SD banyak yang datang untuk mendukung teman mereka Tuti, Desi, dan Dani yang ikut lomba cerdas cermat. Mereka berjalan kaki selama satu jam! Bersyukur karena teman-teman mereka bisa meraih juara 2 :)

Dan yang paling membuat kami senang adalah anak-anak laki-laki dari Cikeusik yang menamakan mereka BOCIX (Bocah Cikeusix), dan yang datang untuk mengikuit berbagai macam lomba 17-an dan terutama lomba futsal. Mereka begitu bersemangat waktu datang dan ketemu kami. Senang banget mereka mau jauh-jauh datang untuk membela RW mereka :) Mereka juga yang menenami kami menampilkan persembahan RW di malam puncak Pesta Rakyat. BOCIX memberi kesan tersendiri buat kami, bahan ingatan kami untuk mengenang Cikeusik. Sekarang kami bahkan menamakan grup Line kami dengan Bocak Cikeu6 ;)

Pesta Rakyat!





BOCIX

Fany dan Gaby, teman saya yang sangat saya kangenin selama saya di Cikeusik!

Sebenarnya masih banyak sekali orang-orang yang saya temui selama saya di Desa Tanjungan, tapi sepertinya post ini saja sudah kepanjangan, hehe. Saya mau berterima kasih kepada mereka semua yang sempat hadir di kehidupan saya dan memberi saya banyak sekali pengalaman dan membuat saya lebih merasa bersyukur dengan kehidupan yang saya punya saat ini. Terima kasih juga kepada teman-teman yang mau berbagi pengalaman dengan saya.

Terima kasih kepada Ibu Wana karena cerita pengalamannya tentang orang-orang kota yang tidak ramah dan sulit untuk menolong sesama, saya jadi tertegun dan berpikir apakah saya orang yang seperti itu juga? Terima kasih karena sekarang saya jadi selalu berpikir dua kali untuk mengeluh.

Terakhir, terima kasih banyak kepada Panitia FKM Peduli 11 yang sudah memberikan saya kesempatan ini. Pengalaman ini tidak pernah akan saya lupakan dan akan terus dengan bangga saya ceritakan kepada orang-orang terdekat saya. Saya bangga karena saya bisa lebih banyak bersyukur, bisa mendapat pengalaman hidup, bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan, bisa mengenal orang-orang baru, dan seperti yang selalu Panitia FKM Peduli 11 katakan, saya bangga karena saya bisa belajar untuk mencintai Indonesia.


Salam BOCIX!



FM

Monday, October 14, 2013

UI, FKM, BEM, dan Kelembagaan

Hai, it’s been like a thousand years since the last time I wrote here, right? Like so many stories that you have to keep up. But no worry, I would tell them now :) 

Jadi, dalam beberapa kurun waktu saya gak nulis di sini, ada beberapa kejadian yang terjadi. Pertama, saya diterima sebagai salah satu mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia. Sejujurnya, UI memang udah menjadi kampus impian saya sejak dulu. Bahkan sejak saya masuk Smansa, tujuan utama saya adalah saya ingin menjadi bagian dari UI. Dan Puji Tuhan sekarang itu tercapai :) Saya punya niat saya harus masuk UI tapi saya gak pernah muluk untuk masalah Fakultas/Jurusan. Sempet galau juga mau ambil jurusan apa, konsul sana-sini, tanya peluang, dan lain sebagainya, tapi yang pasti saya mau ada di jurusan IPA. Setelah melalui proses yang [menurut saya] panjang, akhirnya tercetuslah jurusan Studi Gizi. Padahal, kayaknya udah berbulan-bulan saya menetapkan diri mau jadi perawat, tapi entah kenapa belakangan sebelum pendaftaran SNMPTN, saya ragu untuk jadi perawat dan beralih untuk belajar Gizi. Oh ya, awalnya saya sebenarnya juga mau Teknik Pangan, tapi sayangnya di UI gak ada jurusan itu. Karena saya muluk banget mau masuk UI, akhirnya saya ambil jurusan Gizi.

Studi Gizi itu adanya di FKM. Jujur lagi, sebenernya saya takut banget untuk masuk kuliah karena saya takut di ospek [ini serius]. MOS di Smansa itu udah serem menurut saya, dan apalagi di kampus. Tapi setelah saya bertemu dengan kakak-kakak senior di FKM di hari pertama Gathering Maba, saya jadi merasa sedikit tenang. Mereka baik, dan apalagi seiring berjalannya waktu, semakin terlihat kalau mereka gak ada niat untuk ‘balas dendam’ atau melakukan ‘perploncoan’ sama maba FKM. Mereka pure mau mengajarkan kepada kami untuk menjadi solid, konstruktif, dan bermanfaat [by the way ini tagline dari OKK IM FKM UI 2013]. Rangkaian OKK [Orientasi Kehidupan Kampus] di FKM berjalan sangat mengesankan. Ada berbagai macam rangkaian kegiatan yang harus saya—sebagai maba ikuti. Di antaranya PSAF, Mabim, Magang, dan lain semacamnya. Saat ini saya sudah melewati fase PSAF dan Mabim. Banyak suka-nya dan banyak juga duka-nya. Banyak senyum-nya, tapi banyak juga ngeluh-nya.

Sebenarnya banyak banget yang bisa diceritain dari fase PSAF dan Mabim, tapi itu bukan inti dari cerita yang ingin saya bagi. Saya ingin berbagi cerita seputar magang. Magang adalah kegiatan dimana saya sebagai maba akan menjadi salah satu bagian dari LK [Lembaga Kemahasiswaan] seperti BEM, MPM, KOPMA, dan lain-lain, untuk belajar tentang organisasi di sana. Kurun waktunya hanya satu bulan. Hitung-hitung sebagai persiapan maba untuk menjadi anggota salah satu organisasi yang sebenarnya di kepengurusan yang akan datang [tahun depan]. Saya boleh memilih LK mana yang ingin saya magangi. Ini juga sudah menjadi niat saya sejak dulu bahwa saya ingin ikut organisasi di kampus dan organisasi itu adalah BEM. Gak tahu kenapa, tapi saya ingin banget bisa jadi salah satu bagian dari BEM. Saya boleh memilih 3 LK yang ingin saya magangi  lalu panitia OKK yang akan menentukan saya harus magang di mana. Fyi, magang ini sama sekali tidak menjamin kita bisa langsung menjadi anggota dari LK tersebut. Di open recruitment nanti, tetap akan ada wawancara untuk menjadi anggota.

3 LK yang saya pilih berdasarkan prioritas adalah Kelembagaan-BEM, AKG [Asosiasi Keluarga Gizi], dan POSA [Persekutuan Oikumene Sivitas Akademika] FKM UI. Sebenarnya saya udah pasrah mau ditempatkan di mana. Sudah banyak kakak senior yang pesen sama saya, kalau gak keterima di LK yang diinginkan jangan kecil hati. Karena ini masih magang, yang penting adalah ambil ilmunya dan belajar di sana. Daaan, di hari pengumuman magang yang bertempat di gedung RIK [Rumpun Ilmu Kesehatan], saya mendapat kabar baik karena saya keterima magang di Kelembagaan-BEM :) Gak bisa dipungkiri kalau saya senang. Bagi saya ini merupakan langkah awal yang bisa menjadi patokan kira-kira saya bisa gak masuk BEM nanti, kira-kira saya bisa gak menyesuaikan diri saya untuk menjadi bagian dari BEM nanti.

Sedikit cerita mengenai Kelembagaan [Kelem], merupakan salah satu bidang dari BEM IM FKM UI, yang menjembatani seluruh LK yang ada di FKM dengan BEM. Ada beberapa LK yang pada strukturnya berada di bawah BEM dan bertanggung jawab pada BEM. Nah, bidang Kelem ini-lah yang menjembatani antara LK yang di bawah BEM tersebut dengan BEM itu sendiri. Orang-orang di Kelem ini nantinya akan menjadi LO dari salah satu LK tersebut. Mungkin terdengar masih abstrak, itu juga karena saya belum sepenuhnya memahami apa pekerjaan Kelem sebenarnya selain apa yang sudah saya sebutkan. Tapi saya janji, kalau saya sudah mengerti, saya pasti akan cerita lebih lanjut!

Oke, setelah pengumuman itu, akhirnya saya dan teman-teman magangers Kelem lainnya dikumpulkan bersama kakak-kakak dari Kelem. Oh iya, sebelumnya temen-temen saya yang magang bareng di Kelem ada Rohmah, Trysa, Ria, Zilla, dan Mahmuda. Kami kumpul di belakang musholla RIK. Awalnya memang agak canggung, karena kami gak tahu apa yang harus dibicarakan. Ya, akhirnya perkenalan diri dulu masing-masing. Perkenalan dari magangers, lalu dari kakak-kakak Kelem. Setelah ngobrol-ngobrol, kalau bagi saya, kakak-kakak di Kelem asik-asik :) Maksudnya, mereka baik, mau membaur sama kita—maba. Bercanda bareng dan ketawa bareng. Lalu saya jadi yakin kalau saya bisa nyaman di sini :) Oh iya, kalau di Kelem, kumpul-kumpul gitu namanya Kongkow. Jadi, hari itu merupakan hari Kongkow pertama untuk magangers! Denger-denger juga sih kalau Kelem itu banyak gosipnya ;) hahaha, jadi kalau Kongkow itu gak selalu ngomongin kerjaan, tapi juga bisa sambil gosip bareng. 

Ya, namanya juga magang, jadi saya pasti juga dapet tugas. Tapi enaknya, meskipun tugasnya banyak, most of them adalah tugas bareng-bareng. Jadi lumayan tenang bisa bagi-bagi tugas. Nama PJ magang di Kelem adalah Kak Nabila (Gizi 2012). Tugas pertama kita adalah mewawancara pengurus Kelem sebelumnya, dan wawancara ketua-ketua LK. Sebenarnya saya merasa seneng juga, takut juga, bingung juga, males juga. Karena LK di FKM ada 12 dan kami harus mewawancara semuanya [1 orang minimal 4 ketua]. Tapi, dijalanin aja dulu :) Saya yakin pasti nanti kami semua bisa menemukan hal yang fun di setiap kegiatan yang kami jalanin. Itu semua tergantung kita nya mau apa enggak buat keadaan itu jadi fun! Oh iya, kami juga harus membuat buku Diari magang, tempat untuk kita menulis segala sesuatu yang terjadi saat kita magang.

Kesan pertama saya di Kelem: Seru!! Semoga saya bisa memberi manfaat sebagai magangers  di Kelem dan semoga saya bisa belajar banyak dari Kelem :)

So, maybe that was the first Kongkow that I could share about because we haven’t had the other one. But there will be another one!

BEM IM FKM UI 2013, Sinergis untuk Perubahan!




Source: http://twitter.com/@BEMFKMUI


(I'm supposed to post a picture with me and Kelem, but so sorry I haven't had a chance to take it. I'll be posting it soon!)




FM

Saturday, February 25, 2012

[hope] It is funny

Ceritanya, hari ini, gue, Mimi, dan Mumu punya beberapa rencana untuk dikerjakan. Pulang sekolah, kita bertiga harus pergi ke percetakan buat nyetak poster. Rencana kedua sebenernya kita harus mengantarkan beberapa proposal sponsorship ke beberapa restoran. Sebut aja Restoran A, B, dan C. Restoran B dan C itu berdekatan, sementara A itu jauh. Jadi, ekstrakurikuler yang gue ikuti di sekolah mau mengadakan semacam lomba bulan depan dan hari ini kita mau nyetak poster buat itu. Sebenernya, perjalanan dari sekolah ke percetakan lumayan deket, tapi entah mengapa gue menganggap itu jadi lumayan jauh. Dengan kondisi, gue kebelet pipis, dan udara di luar yang kelewat panas. Sebenernya gue bisa aja langsung pulang, karena gue enggak seharusnya ngurusin poster.

Di jalan

Mimi : "Fan, emang kita hari ini jadi mau kasih sponsor?"
Gue : "Emang kenapa? Apa mau besok aja pulang Gereja?" (Mumu enggak pergi ke Gereja)
Mimi : "Oh boleh boleh tuh..."

Oke, keputusan sudah dibuat. Sponsornya besok. Eh, tapi tunggu...otak gue seakan langsung connect...

Gue : "Mi, kalo mau besok sponsornya, ngapain dong sekarang gue ikut lo ke percetakan? Gue kan bisa langsung pulang!" (Mimi mikir terus nyengir)
Mimi : "Oh iya ya, yaudah yaudah hari ini. Tenang aja, Fan."

Semua berjalan lancar di percetakan. Tawar menawar sama mbak-mbaknya, ng-edit sebentar di sana dan langsung cetak. Awalnya, kita kira bakal harus besok di ambilnya hasil cetakan itu, tapi ternyata bisa di tunggu. Sebenernya, dari tadi di percetakan gue mikir...

Sekarang kita ada di daerah sini, kalo mau ke restoran A, B, dan C gimana caranya ya? Semuanya jauh. Mana panas, naik angkot pula. Akhirnya gue mendekati Mimi...

Gue : "Mi, besok aja, yuk, sponsornya. Panas banget nih, gue dari sini langsung pulang."
Mimi : "Yaaaah, ko gitu, sih, Fan? Lo enggak apa-apa nanti? Lo ngambek ya sama gue?"
Gue : "Enggak, Mi, besok aja yaa?? Panas bangeeett."
Mimi : "Udah, Fan, hari ini aja, tenang. Lo bohong! Lo pasti ngambek sama gue. Lo enggak bakal sia-sia kok ikut ke sini. Kita kasihnya hari ini."

Dalem hati sebenernya gue pengen bilang, "MI INI PANAS BUKAN MASALAH GUE SIA-SIA DATENG KE SINI. GUE BISA GOSONG JADI ABU SAMPE RUMAH."

Akhirnya, gue diem aja..okeeey tetep hari ini.

Keluar dari percetakan.
Mimi : "Kita naik angkot apa nih, Fan, kalo mau ke restoran A?"
Mumu : "Beli es krim dulu, yu."
Gue : "Oke, beli es krim."
Gue : "Eh, Mi, lo tau Restoran A itu dimana?"
Mimi : "Tau."
Gue : "Emang di mana? Masuk ke Villa Duta?"
Mimi : "Enggak, ko, belum sampe ke sana. Di pinggir jalan." (Gue mikir, restoran deket Villa Duta, pinggir jalan. JANGAN-JANGAN.....)
Gue : "Restorannya itu yang naik ke atas, bukan?" (Semua bengong. Oh tidak, salah ngomong.)
Gue : "Maksud gue, yang naik ke atas dulu sebelum pintu utamanya."
Mimi : "Iyaaa."
Gue : "Gila, lo! Itu kan gede banget."
Mimi : "Emang kenapa?! Kita harus dandan dulu?" (Sebenernya itu yang gue pikirin. Bayangin aja, bau keringet, bawa barang banyak banget, mau ketemu manager restoran gede. Oh tidak!)
Gue : "Enggak, sih, oke lanjut."

Akhirnya kita beli es krim. Gue ambil magnum, Mumu ambil apa gue lupa, dan Mimi juga ambil magnum. Kita makan di angkot. Jadi, untuk ke Restoran A, kita harus naik angkot dua kali. Angkot pertama turun di depan Balaikota, dan angkot kedua turun di depan Restoran A. Pas kita turun dari angkot pertama dan berdiri di seberang Balaikota, sambil tetep megang es krim masing-masing, tiba-tiba ada tiga orang berhenti di depan kita. Dua cowok, satu cewek. Pake baju ngejreng-ngejreng. Gue kira turis Asia, tapi ternyata....orang pribumi.

Cowok1 : "Permisi, kalo Kebun Raya di mana, ya?" (Mimi udah nunjuk ke tempat di belakang kita. Oke, sebenarnya itu Istana, tapi karena Istana dan Kebun Raya itu berdekatan, jadi selama ini semua orang yang tinggal di kota tempat gue tinggal akan menganggap itu juga bagian dari Kebun Raya)

Gue : "Di sana." (Gue nunjuk ke arah yang berlawanan dari Mimi)
Mimi : "Eh, oh, iya, di sana."
Cowok1 : "Masih jauh ga? Kira-kira berapa jam perjalanan?" (Tampang ngelucu tapi garing dan gue cuma nyengir kering)
Gue : "Heheh, enggak sampe satu jam ko."
Cowok1 : "Ikutin terus jalan ini, ya? Nanti sampe?" (Kita bertiga ngangguk)
Cewek : "Kalo naik angkot lebih deket, ga?"
Gue : "Iyalah lebih deket." (Mbak, mau di lempar sepatu apa penggorengan?!)
Mumu : "Enggak lebih deket juga sih, lebih cepet."
Gue : "(GUBRAK) oh iya."
Cowok1 : "Oke deh, makasih ya."
Cewek : "Makasih ya." (Kita bertiga nyengir sambil bilang 'Iya' sementera si Cowok2 cuma nyengir sambil lewat)

Mimi : "Sebenernya tergantung lo, sih, Mas, jalannya sambil gimana, kalo jalannya kayak keong ya besok baru sampe." (Mimi mencibir dan semua ketawa)
Gue : "Eh, tapi sadar nggak sih, lo, kalo pintu Kebun Raya yang di depan Pasar itu kan lumayan jauh dari sini. Pintu yang di deket Kantor Pos itu kan jarang di buka."
Mimi : "Iya, ah udah nanti juga kalo enggak sampe-sampe mereka naik angkot."

Masalah selesai. Kita naik angkot kedua. Di dalem angkot ada anak kecil. Sial, kita lagi makan es krim. Karena es krimnya udah hampir abis, jadi enggak mungkin di tunda dulu makannya. Itu anak kecil sayangnya ngeliatin terus dan oke gue diem aja. Enggak lama, dia tidur. Mungkin cape ngiler. Turun dari angkot dan sampe di depan Restoran A. Mumu nganga.

Mumu : "Gila, gila, Teh. Cologne, cologne!" (Mimi emang bawa minyak wangi)
Mimi : "Mau ke toilet dulu baru masuk?"
Mumu : "Teh, cologne, teh!"
Mimi : "Mau di sini?" (Kita di pinggir jalan abis turun angkot)
Gue : "Enggaklaah, kita ke toilet aja dulu."

Akhirnya, kita ke toilet. Ngaca, rapiin rambut, dan pake cologne-nya Mimi. Entah kenapa, di sini Mumu kelihatan nervous banget. Di depan toilet, dia tiba-tiba bilang,

Mumu : "Teh Mimi, kenapa rambutnya digituin?"
Mimi : "Ha? Emangnya kenapa?" (Sambil pegang-pegang rambut)
Mumu : "Agak nggak rapi aja gitu, Teh."
Mimi : "Iya?" (Sambil masih pegang-pegang rambut)
Gue : "Udah, lanjutlah."

Kita pun lanjut. Masuk ke dalam restoran dan tiba-tiba mencium aroma masakan padang. Loh? Ini bukan restoran padang x_x Kita ke meja kasir, tanya sama dia ada manager/supervisi enggak, katanya enggak ada, lagi liburan. Oke, kita buat janji besok, jam 11. Proposal udah di kasih, dititipin ke mbak kasir. Kita keluar.

Di luar, sebenarnya kita berdebat banyak tentang mau-pergi-kemana. Tapi akhirnya kita tetep milih untuk ke Restoran B dan C. Kondisinya juga, kita harus naik angkot dua kali.

Di angkot pertama
Gue : "Kira-kira mereka bertiga udah sampe Kebun Raya belum, ya?" (Ga ada yang jawab, cuma pada ketawa)

Di angkot kedua, kita duduk berderet di kursi empat. Di depan kita, ada anak-anak, mungkin seumuran sama kita tapi pake baju bebas. Kayaknya mau main gitu. Tiba-tiba, Mumu yang duduk di samping gue (Mumu duduk di tengah, di antara gue sama Mimi) ngajak gue ngomong.

Mumu : "Teh, itu yang duduk di depan resleting celananya kebuka." (Bisik-bisik. Bodohnya, gue ngeliat ke arah kursi supir)
Mumu : "Itu, Teh, cewek yang di depan Teteh." (Akhirnya gue ngelihat ke arah yang dimaksud. Oh iya! Tapi gue ga kenal. Kalo gue tegor juga, bisa malu dia)
Gue : "Udah, diemin aja."

Gak lama, Mimi ajak gue ngomong.
Mimi : "Fan, itu temen lo resletingnya kebuka." (Ngomong tanpa suara)
Gue : "Siapa?!" (Mimi mengarah ke orang yang sama di bilang sama Mumu)
Gue : "Dia bukan temen gue!"
Mimi : "Iya gue tau dia bukan temen lo tapi resletingnya kebuka." (Karena sebenernya gue enggak ngerti apa yang terjadi, akhrinya gue cuma ketawa, dan Mimi pun nyengir)

Di Restoran B, ternyata sama. Enggak ada manager/supervisi. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang dengan udara yang tiba-tiba berubah jadi mendung, kita memutuskan untuk makan. Milih makanan, lumayan makan waktu banyak.

Di restoran ini, sistem pesennya, kita yang tulis makanan di secarik kertas. Karena gue yang pertama kali memutuskan untuk pilih makan apa, akhirnya gue yang nulis.

"1 Nasi goreng ayam"

Gue : "Eh, minumnya mau apa?"
Mumu : "Aku teh manis anget aja, deh, Teh. Masa sama teh manis dingin bedanya 500?"
Mimi : "Mu, seriusan? Ini panas banget, loh!" (Udaranya maksudnya)
Gue : "Iya, Mu, lo gila, aja."
Mimi : "Tapi terserah, sih, kata gue ini panas."
Mumu : "Yaudah deh, Teh, teh manis dingin aja."

"1 Nasi goreng ayam"
"3 teh manis dingin"

Gue : "Kalian mau makan apa?"
Mimi : "Bentar gue mau tanya dulu."

Akhirnya kita panggil mas-masnya yang kerja di situ.

Mimi : "Mas, ini menu yang ayam+nasi+lalap+sambal itu ayamnya apa, ya? Goreng apa bakar?"
Mas-mas : "Oh, itu sesuai selera aja, boleh pilih mau bakar apa goreng."
Mimi : "Oh gitu, yaudah deh, Mas, saya mau satu ayam bakar ya, yang itu." (Masnya bengong, kita semua bengong. Tiba-tiba, gue tersadar kalo gue yang pegang kertas buat nulis menu)
Mimi : "Oh iyaaaa! Lo yang nulis ya, Fan? Sorry sorry, hahahahaha..." (Mumu ikutan ketawa, dan gue dengan muka nyesek. Serasa gue yang jadi pegawai di sini)
Gue : "Kamu apa, Mu?"
Mumu : "Sama aja kayak Teh Mimi.

"1 Nasi goreng ayam"
"3 teh manis dingin"
"2 ayam bakar+nasi+lalap+sambal"

Abis itu, gue kasih ke mas-masnya.

Mas-mas : "Diualng ya, pesanannya. 1 Nasi goreng ayam, 3 es teh manis, 2 ayam bakar...."
Gue : "Es teh manisnya yang dingin ya, Mas."
Mas-mas : "Ha?"
Mimi : "Yaiyalah, Fan, dingin kan es teh manis."
Gue : "OH IYAAAAA!" (Gilaa gue malu banget! Gue mikirnya tadi gue nulis teh manis dingin di kertas itu, tapi di nyebutnya es teh manis enggak ada dingin-nya. Bodooh!)
Gue : "Oh iya, Mas, maaf."
Mas-mas : "Saya kira ayam bakarnya yang dingin."

GUBRAAAAKK. Mimi, Mumu, dan bahkan mas-mas itu ketawa. Hancurlah reputasi gue di sini.

Setelah makan, Mumu dan Mimi pergi cuci tangan karena mereka makan pake tangan. Pas balik, Mumu menemukan kucing. Fyi, gue enggak terlalu suka kucing sementara Mimi dan Mumu suka banget sama kucing. Akhirnya, mereka main sama kucing itu, gue sibuk sama hp. Mereka kasih makan kucing itu pake tulang-tulang ayam bekas mereka makan. Dan gak lama, akhirnya Mumu gendong itu kucing terus dipangku di paha dia. Gue tetep mainin hp. Tiba-tiba, ada mas-mas lewat (beda sama yang tadi)

Mas-mas : "Mbak, kucingnya bawa pulang aja."
Mumu : "Ha?"
Mas-mas : "Kucingnya bawa pulang aja." (Gue kira reaksi Mumu bakal ketawa tapi ternyata..)
Mumu : "Enggak ah, Mas, gak usah." (GUBRAK)

Setelah Mimi kita ceritain kisah mas-mas itu, Mimi tiba-tiba ketawa.
Mimi : "Hahahahaha, gue baru denger ada mas-mas yang kayak gitu." (Sebenernya gue gak ngerti, tapi gue ikut ketawa aja)


Oh tidak, sebenarnya ini masih ada lanjutan ceritanya, cuma sayangnya punggung gue udah sakit banget senderan di tempat tidur, dan paha gue udah pegel banget mangku laptop. So, chao!

Tuesday, July 12, 2011

A year with SMANSA

Setahun rasanya terlalu cepat untuk aku berada di SMANSA. Sebuah lingkungan kecil yang penuh dengan suka dan duka. Pada awal aku memasuki lingkungan kecil ini, aku hanya merasakan banyak duka dan sedikit suka. Memang, masih terngiang-ngiang di kepalaku tentang MOPDB/MOS. Tentang para CO-PJ, CO-CO-PJ, PJ, hingga POSKO. Mereka memberikan kesan tersendiri bagiku di SMANSA. Tentang nama angkatan mulai dari Perisai Kesatria, Benteng Batu, hingga kami Meriam Baja. Mungkin hanya anak-anak SMANSA yang mengerti apa itu. Ini bukan rasis, hanya menceritakan 'unik'-nya SMANSA.

Aku merasa sedang berada di dunia yang berbeda ketika berada di SMANSA. Mungkin ini duniaku yang baru. Dunia organisasi, dunia santai tapi serius, dunia loyalitas, dan dunia mempertahankan hidup sendiri.

Di mulai dari X6. Kelas pertama yang cukup banyak memberikan kesan berharga untukku. Bisa dibilang, aku mengenal baik seluruh teman-temanku di kelas ini. Yaa, mungkin ada beberapa orang yang jarang sekali berbicara denganku, tapi itu pun dapat di hitung dengan jari. Hanya X6 satu-satunya kelas yang tidak ada CCTV. Dengan kata lain, tidak pernah ada yang memperhatikan kita ketika kita bermain game di komputer, tiduran di lantai, atau ketika kita melakukan kegiatan bodoh lainnya. Meskipun kami tidak sekompak itu, tapi kami tetap berusaha untuk menjadikan X6 yang terbaik di hati kami masing-masing. Dengan wali kelas yang kelewat gaul, dengan keadaan spidol yang selalu kosong, dengan keadaan proyektor yang berwarna ungu, dengan loker Sigit yang jebol karena ia tarik-tarik sendiri untuk mengambil baju olahraganya di dalam, dengan satu piala dan satu piagam, dengan madingnya yang kecil terletak di dekat pintu, dengan pintunya yang bisa di jebol, dan tentunya dengan semua teman yang begitu baik hati dan menyenangkan.

Lalu eASY. Apa yang harus aku katakan tentang eASY? Sebuah semi-organisasi ektrakulikuler Bahasa Inggris yang mengajariku banyak hal. eASY memberiku teman, memberiku pengajaran tentang sebuah loyalitas, dan prioritas. Aku belajar untuk benar-benar 'sendiri' membuat sebuah acara. Tanpa bantuan guru. Guru tentu membantu, tapi itu paling hanya sekedar penyetujuan proposal, dan penyediaan sarana prasarana. Aku dan teman-teman di eASY, berusaha sekuat tenaga kami untuk membuat acara yang benar-benar dapat berlangsung dengan baik. eASY membawaku ke UI. Meskipun hanya datang ke Fakultas Hukum-nya, mengikuti lomba ALSA e-COMP, tapi itu sudah berarti banyak untukku. Dari eASY, aku mengenal beberapa kakak kelas. Berbeda sekali dengan diriku yang dulu. Ketika SMP, hanya satu-dua kakak kelas yang aku tahu. Sekarang, aku bisa mengetahui lumayan banyak, bahkan yang dua tahun lebih tua dariku.

PERSIK. Persekutuan Siswa/i Kristen SMANSA. PERSIK juga memberiku banyak hal. Teman seiman, dan segudang kesenangan. Meskipun tidak terlalu memakan banyak waktu dan tenaga, tapi terkadang aku masih suka mengabaikan kegiatan-kegiatan PERSIK. Itulah mengapa aku merasa berdosa sekali (hahaha). Mungkin tahun ini tahun yang tepat untuk memperbaiki semuanya.

Hanya satu yang membuatku merasa ciut di SMANSA. Aku takut menghadapi regenerasi! Percaya atau tidak, regenerasi lebih menyeramkan dari sekedar MOS. Regenerasi akan membawamu ke alumni yang jauh lebih menyeramkan dari POSKO di SMANSA. Itu mungkin sebabnya mengapa aku tidak ingin mengikuti OSIS yang benar-benar organisasi. Bahkan saat ini, memikirkan regenerasi eASY saja, aku sudah mulai kehilangan kendali.

Tapi terlepas dari itu semua, SMANSA menggoreskan cerita sendiri dalam kehidupanku. Mungkin ini sebabnya mereka menyebutnya sekolah favorit. Terkadang, aku lelah berada di SMANSA, aku di tuntut harus menyeimbangkan antara pelajaran dan ekskul, dan menurutku itu susah. Tapi itu tidak menjadi satu hal yang kuat untukku meninggalkan SMANSA dan beralih ke yang lain. SMANSA memberiku tawa, memberiku tangis, memberiku teman, dan memberiku pengalaman berharga :)

FM